About UID 10 Years of UID UID Program IDEAS SDSN UID-SDSN Award Publication Contact Us

  Newsletter
  Annual Report
Bookmark and Share

Sunday, May 21, 2017
Kemenperin Jalin Kerjasama dengan Tsinghua University dan UID


Penandatanganan LoI kerjasama antara Kementerian Perindustrian dan Tsinghua University dalam pengembangan center of excellent atau pusat keunggulan dalam bidang inovasi dan kepemimpinan kewirausahaan

Jakarta---Untuk mempercepat implementasi konsep Industry 4.0 dalam pengembangan sektor manufaktur nasional, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) menandatangani kerjasama dengan Tsinghua University dan United in Diversity Foundation (UID) untuk membentuk centre of excellent atau pusat keunggulan dalam bidang inovasi dan kepemimpinan kewirausahaan. Perjanjian kerjasama ini dituangkan dalam bentuk letter of intent (LoI) yang ditandatangani Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Presiden Tshinghua University Qiu Yong yang juga dihadiri Presiden UID Marie Elka Pangestu dan founder UID Foundation Cherie Nursalim, di Beijing, Minggu (14/5).

Pusat keunggulan akan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan kemampuan penciptaan nilai melalui pembelajaran, penelitian dan pengembangan di bidang kepemimpinan inovasi dan kewiraswastaan untuk Industry 4.0. Kerjasama ini juga dimaksudkan untuk memperluas jaringan strategis antara instansi Pemerintah Republik Indonesia dan RRC di bidang Industry 4.0.

"Pengembangan sumber daya manusia termasuk kepemimpinan untuk menghadapi Industri 4.0 sangat penting. Kolaborasi dengan Tsinghua dan UID hari ini diharapkan dapat menyumbang kepada hal ini," kata Menteri Airlangga.

Menteri mengatakan, sehari sebelum penantanganan kerjasama, ia sempat berkunjung ke kampus Tsinghua melihat berbagai perkembangan penelitian dan teknologi salah satu universitas tertua RRC ini. "Antara lain saya sangat terkesan dengan i-center yang terdiri dari pengembangan inovasi, ide dan internasionalisasi. Saya kira kerjasama dapat memasukan unsur "i" baru yaitu Indonesia, dan secara simbolis juga menunjukan kerjasama ini," kata Airlangga.

Presiden Qiu Yong mengatakan, kerjasama ini akan ditindaklanjuti dengan mendirikan Tsinghua South Center di Indonesia. Lembaga ini akan berupaya menjadi basis untuk mendorong kerjasama internasional dan penukaran pengetahuan sesama anggota ASEAN untuk menghadapi revolusi Industri 4.0. "Selain itu, Tsinghua South Center juga diharapkan membangun pemimpin yang bisa menjembatani kerjasama yang lebih erat antara Indonesia, anggota ASEAN, negara kawasan one belt one road atau jalur sutra dengan RRC," kata Yong.

Sementara itu Presiden UID yang juga mantan Menteri Perdagangan 2004-2012 Marie Elka Pangestu mengatakan, kerjasama Kementerian Perindustrian dengan Tsinghua University merupakan peluang bagi sektor industri manufaktur Indonesia untuk mengembangkan kemampuan dalam menghadapi era Industri 4.0. "Oleh karena itu, UID sangat gembira dapat ikut berperan dalam kerjasama ini," kata Marie Pangestu.

Sementara itu, dalam rangkaian kunjungan menghadiri Belt and Road Forum For International Cooperation yang dihadiri 29 kepala negara di Beijing, (14/5), Presiden Jokowi KTT menerima delegasi Tsinghua University yang dipimpin Presiden Qiu Yong. Dalam kesempatan itu, Presiden mengapresiasi peran Tsinghua University sebagai fakultas tertua RRC yang telah berhasil menjadi lembaga ternama dalam pengembangan teknologi, riset di bidan industri. "Dalam kesempatan itu, presiden Jokowi juga menyatakan apresiasinya terhadap kerjasama Kementerian Perindustrian, Tsinghua University dan UID," kata Cherie Nursalim.


Presiden Joko Widodo berfoto bersama Presiden Tsinghua University Qiu Yong (tengah) pada acara Belt and Road Forum For International Cooperation

Sementara itu dalam beberapa kesempatan, Menteri Airlangga menegaskan, revolusi Industry 4.0 merupakan tangangan yang tidak bisa dihindarkan, namun juga menjadi peluang baru sehingga Indonesia perlu mempersiapkan diri. "Jadi, kita perlu menginformasikan kepada para pemangku kepentingan bahwa Industry 4.0 ini bukan hanya di depan mata, tetapi sudah berjalan. Ke depan, kebijakan industri harus selaras disesuaikan dengan perkembangan teknologi," ujarnya.

Sektor industri manufaktur global maupun nasional dituntut untuk menerapkan konsep Industry 4.0 agar mampu menghadapi revolusi yang lahir dari perkembangan dunia digital. Manufaktur yang terhubung secara digital, yang seringkali disebut sebagai "Industry 4.0", mencakup berbagai jenis teknologi, mulai dari 3D printing hingga robotik, jenis material baru serta sistem produksi.

Langkah menuju Industry 4.0 ini akan memberikan manfaat bagi sektor swasta. Produsen besar yang terintegrasi akan dapat mengoptimalkan serta menyederhanakan rantai suplai mereka, contohnya melalui sistem flexible factories.

Sistem manufaktur yang dioperasikan secara digital juga akan membuka peluang-peluang pasar baru bagi UKM penyedia teknologi seperti sensor, robotik, 3D printing atau teknologi komunikasi antar mesin. Perusahaan yang siap menyambut revolusi Industri ini adalah mereka yang dapat membangun ekosistem produksi berbasis konsep Industry 4.0.

Konsep Industry 4.0 dicetuskan pertama kali pada 2011 oleh Jerman, yang kemudian menjadi tema utama pada pertemuan World Economic Forum (WEF) 2016 di Davos, Swiss. Beberapa negara yang telah memiliki program-program untuk mendukung industrinya menuju Industry 4.0 seperti Jerman, Inggris, Amerika Serikat, China, India, Jepang, Korea, dan Vietnam.

Cherie Nursalim founder UID Foundation mengatakan, sebagai organisasi nirlaba pihaknya berupaya terus mendorong kerjasama berbagai instansi pemerintah baik secara G to G maupun dengan perguruan tinggi dan swasta di dalam dan luar negeri. Sebelum dengan Kementerian PerIndustryan, UID dan Tshinghua University juga telah melakukan kerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia untuk peningkatan kompetensi SDM dan kebijakan publik di bidang ketenagakerjaan pada November 2016 lalu.

UID adalah organisasi nirlaba yang didirikan pada 2003 yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat serta pembangunan SDM. Tsinghua University adalah salah satu institusi akademis tertua di RRC. Lulusannya yang paling terkenal adalah Presiden RRC saat ini, Xi Jinping. Ini adalah universitas komprehensif dengan menggabungkan kapasitas penelitian dan pelatihan yang kuat. Pada tahun 2017, Universitas Tsinghua memiliki sekitar 46.000 siswa yang belajar di 20 fakultas, 54 departemen, 337 lembaga penelitian, 35 pusat penelitian, dan 167 laboratorium, termasuk 15 laboratorium unggulan RRC.

Tsinghua University dan United in Diversity Foundation adalah bagian dari UN-SDSN (United Nation Sustainable Development Solution Network) dimana Tsinghua bertindak sebagai ketua untuk kawasan global dan UID sebagai ketua untuk wilayah Asia Tenggara. UN-SDSN bertujuan untuk memobilisasi keahlian ilmiah dan teknologi global untuk mempromosikan pemecahan masalah praktis bagi pembangunan berkelanjutan secara terpadu, melibatkan semua pemangku kepentingan dan memusatkan perhatian pada penerapan yang efektif oleh pembuat kebijakan. Kedua entitas tersebut telah berkolaborasi erat dengan mitra Universitas di negara masing-masing dan secara internasional.

Kolaborasi ini juga merupakan bagian dari partisipasi Tsinghua University dalam mengembangkan hubungan dengan Negara-negara Asia di bawah kerangka One Belt One Road. Tsinghua berencana untuk memperkuat kerjasama dengan Indonesia dengan membangun pusat keunggulan untuk memupuk inovasi untuk solusi berkelanjutan dan peningkatan kapasitas untuk menghadapi tantangan revolusi teknologi di kawasan ini. (*)


  |   About UID   |   10 Years of UID   |   UID Program   |   IDEAS   |   SDSN   |   UID-SDSN Award   |   Publication   |   Contact Us
©2017 United in Diversity