About UID 10 Years of UID UID Program IDEAS SDSN UID-SDSN Award Publication Contact Us



Photo Gallery

Learn more about IDEAS

U-IDEAS Indonesia Alumni
Bookmark and Share

Monday, November 06, 2017
Story of Co-CLASS: Transformasi Sistem Ketenagakerjaan Indonesia melalui Program Co-CLASS


Para peserta dan fasilitator Co-CLASS berfoto bersama dengan Dewan Kehormatan UID, Bapak Aristides Katoppo dan Ketua Umum UID, Ibu Mari Elka Pangestu dalam Orientaton Workshop

United in Diversity Foundation, berkolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Universitas Tsinghua, dan Universitas Paramadina menyelenggarakan Co-CLASS (Collective, Creative Learning and Action for Sustainable Solutions) dengan fokus utama mentransformasikan sistem ketenagakerjaan di Indonesia. Co-CLASS adalah program pendidikan eksekutif yang dirancang untuk menjadi laboratorium pembelajaran bagi para pemimpin dari berbagai pemangku kepentingan suatu sistem untuk secara kolektif mengembangkan kapasitas mereka untuk menciptakan dan memimpin inovasi yang terkait dengan sistem ketenagakerjaan.

Program ini bertujuan untuk:
  1. Mengkaji, mengevaluasi, dan menganalisis makrokosma ekonomi dan pekerjaan di tingkat global, regional, dan nasional.

  2. Pengalaman dan belajar bagaimana membangun budaya yang kondusif bagi inovasi untuk menghadapi tantangan sistemik dan kompleks.

  3. 2. Pengalaman dan belajar bagaimana membangun budaya yang kondusif bagi inovasi untuk menghadapi tantangan sistemik dan kompleks.

  4. Membangun kebijakan publik yang lebih inklusif yang akan mendorong iklim kerja yang berdaulat, mandiri, dan berdasarkan kepercayaan dan kerja sama.

Co-CLASS Employment System Transformation mengajak 30 peserta lintas sektor dari bisnis, pemerintah, serikat pekerja, dan NGO sebagai pemangku kepentingan dalam sebuah sistem ketenagakerjaan untuk mengikuti pembelajaran menggunakan U Theory selama lima bulan. Ke-lima workshop (pertemuan 18 hari) dilengkapi dengan kegiatan individu dan kelompok di Ruang Belajar (Learning Space) dimana peserta diundang untuk mempraktikkan wawasan baru mereka di Laboratorium Pribadi (Personal Lab), Profesional, dan Masyarakat mereka sendiri.


ORIENTATION WORKSHOP

Peserta Co-CLASS sedang fokus mendengarkan presentasi Bapak Suryopratomo, Direktur Utama Metro TV, sebagai salah satu pembicara dalam Orientation Workshop

Perjalanan pembelajaran Co-CLASS dimulai dengan Orientation Workshop yang dilaksanakan pada tanggal 15-17 Juni2017 di Hotel Grand Tropic. Dalam workshop ini peserta diajak untuk mengenali sistem ketenagakerjaan di Indonesia, memetakan kesenjangan antar tiga sektor, dan mengidentifikasi perubahan dalam sistem ketenagakerjaan yang mungkin terjadi di masa depan dari berbagai sudut pandang.

Tema pembelajaran workshop ini adalah untuk (1) meningkatkan daya saing industri, mutu sosial, dan kepatuhan pemangku kepentingan terhadap peraturan tersebut, (2) meningkatkan kualitas kebijakan dalam sistem ketenagakerjaan, dan (3) meningkatkan kualitas pemerintah, LSM , bisnis; dan komunikasi antara ketiga pemangku kepentingan tersebut.



Ketua Umum UID, Ibu Mari Elka Pangestu memberikan penghargaan kepada Bapak Suryopratomo

Ada beberapa pembicara unggulan di bidangnya yang diundang seperti Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan saat ini juga merupakan Presiden United in Diversity Foundation, berbicara tentang Transformasi Industri, Teknologi dan Ekonomi. Sesi ini kemudian dilanjutkan oleh Suryopratomo, Direktur Utama Metro TV, yang menyampaikan sesi Mengajukan Peradaban Uber. Pada hari kedua, rektor Universitas Paramadina, Prof. Firmanzah, menyampaikan sebuah sesi tentang Transformasi Sistem Ketenagakerjaan. Pada hari terakhir, Direktur Paramadina Public Policy Institute dan juga Wakil Rektor Bidang Operasi dan Keuangan di Universitas Paramadina, Bima Priya Santosa, Ak. BAP, MFM, menyampaikan sebuah sesi tentang Latar Belakang Filosofis Kebijakan Publik.

Pada lokakarya tiga hari ini, fasilitator dari UID, Shobi Lawalata, Cokorda Istri Dewi dan Dr. Ben Chan mengundang para peserta untuk memahami dan mencapai tujuan program Co-CLASS melalui banyak sesi menarik dan pemikiran, seperti Cultivating Personal Leadership Capacity for 21st Century Challenges, Cultivating Collective Leadership Capacity, Leading Resilient and Adaptive Organization in 21st Century, Generative Conversation, Understanding Complexities: Introduction to Systems Thinking, dan sesi lainnya. Dengan metode pembelajaran interaktif yang selaras dengan kecerdasan kepala, tangan dan hati, peserta benar-benar termotivasi dan antusias untuk mengikuti semua sesi di Orientation Workshop.

Berakhir pada tanggal 17 Juni, workshop awal ini kemudian dilanjutkan dengan Foundation Workshop pada 10-16 Juli 2017 di School of Public Policy Management, Universitas Tsinghua dimana para peserta akan dibawa untuk belajar lebih banyak tentang ketenagakerjaan dan kebijakan publik China.


FOUNDATION WORKSHOP


Pelaksanaan workshop selanjutnya, ke-32 peserta Co-CLASS dibawa ke Negeri Cina tepatnya di School of Public Policy and Management (SPPM), Universitas Tsinghua di Beijing untuk melaksanakan workshop kedua yaitu Foundation Workshop yang dilaksanakan pada tanggal 10-15 Juli 2017.

Tema pembelajaran workshop kedua ini adalah untuk (1) Meningkatkan Daya Saing Industri, Mutu Sosial, dan kepatuhan Pemangku Kepentingan terhadap peraturan tersebut, (2) Meningkatkan kualitas kebijakan dalam sistem ketenagakerjaan, dan (3) Meningkatkan kualitas pemerintah, LSM , Bisnis; Dan komunikasi antara ketiga pemangku kepentingan tersebut. Beberapa pemateri yang diundang merupakan pengajar di Universitas Tsinghua.




Pada hari pertama para peserta mendapatkan wawasan tentang Kebijakan Publik tentang Keamanan Sosial dan Ketenagakerjaan di China yang disampaikan oleh Prof. WANG Yanzhong, Direktur Pusat Penelitian Ketenagakerjaan dan Keamanan Sosial, Chinese Academy of Social Sciences. Sesi selanjutnya diisi oleh Mr. LAN Lijun, mantan duta besar China di Indonesia, yang menyampaikan sesi mengenai Hubungan ASEAN-China dan Kerjasama China-Indonesia dalam One Belt One Road (OBOR).


Hari kedua Foundation Workshop diawali dengan sesi pembelajaran kepemimpinan yang disampaikan oleh Prof. WANG Youqiang dari School of Public Policy and Management. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan on-site visit ke China Academy of Labor and Social Society. Merupakan bagian dari Kementerian Ketenagakerjaan di China. Di sana, para peserta Co-CLASS diajak untuk memahami kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Pemerintah China dalam menghadapi tantangan ketenagakerjaan di abad-21.



Kegiatan pembelajaran Foundation Workshop hari ketiga dibuka dengan sesi mengenai Daya Saing Industri, Made-in-China 2025, dan Kebijakan Industri yang disampaikan oleh Prof. Wang Xiaoming, seorang Direktur Penelitian Industri, Pusat Pengembangan Penelitian Dewan Negara. Para peserta memberikan respon yang sangat baik dalam sesi tersebut. Mereka juga sangat antusias untuk belajar lebih banyak dengan Prof. WANG Xiaoming. Selanjutnya, pada kegiatan on-site visit, para peserta diajak untuk mengunjungi kantor Hua Wei di Beijing.



Pada hari keempat, Prof. ZENG Xiangquan yang merupakan Direktur China Institute for Employment Research, Universitas Renmin China, menyampaikan materi mengenai Mengubah Pasar Tenaga Kerja di China: Tantangan, Kecenderungan dan Prospek. Setelah itu, kegiatan workshop ini dilanjutkan kegiatan on-site visit selama tiga jam dengan mengunjungi Tuspark (Tsinghua University Science Park) dimana para peserta diundang untuk melihat ruang pameran yang menceritakan bentuk layanan dan konsep besar pengembangan Tuspark. Selain itu, mereka juga diajak untuk mengunjungi Happiness Technology Lab (H+Lab) milik Universitas Tsinghua, dan berkesempatan untuk merasakan teknologi industri kebahagiaan.



Hari kelima, sebagai hari terakhir kegiatan pembelajaran Foundation Workshop, dibuka dengan sesi mengenai Strategi Daya Saing Global Talent dan Kebijakan Personil Profesional High-End, yang disampaikan oleh seorang Penasihat Dewan Negara yang juga merupakan Pendiri dan Presiden Pusat China dan Globalisasi (CCG), Prof. WANG Huiyao. Selanjutnya, diadakan closing ceremony sebagai simbolis berakhirnya sesi pembelajaran Foundation Workshop di Beijing yang dilaksanakan di SPPM, dan dihadiri oleh Cherie Nursalim sebagai Vice Chairman Giti Group. Kegiatan hari itu, ditutup dengan on-site visit ke perusahaan e-commerce terbesar di dunia yaitu Alibaba. Dalam tur singkat tersebut, para peserta Co-CLASS diundang untuk melihat dan merasakan bagaimana penerapan industry 4.0 di sektor retail yang saat ini sudah menjadi fenomena di dunia.



Rangkaian kegiatan Co-CLASS di Beijing ditutup dengan kegiatan perjalanan wisata Co-CLASS Tour Beijing pada 16 Juli 2017, tepatnya di hari keenam. Para peserta, faculty dan juga observer diajak untuk mengunjungi tujuan wisata lokal seperti Forbidden City dan Summer Palace. Selain itu, dalam prosesnya, peserta diajak untuk merasakan pengalaman menjadi warga Beijing lokal menggunakan transportasi di Beijing yaitu subway atau kereta bawah tanah.


SENSING WORKSHOP

Diskusi kelompok dalam kegiatan pembelajaran Sensing Workshop di Kemnaker

Pelaksanaan program Co-CLASS (Collective, Creative Learning and Action for Sustainable Solution) yang dilaksanakan atas kerjasama United In Diversity Foundation, Kementerian Ketenagakerjaan, Universitas Tsinghua dan Universitas Paramadina telah memasuki workshop ke-tiganya yaitu Sensing Workshop.

Kegiatan Sensing Workshop telah dilaksanakan di Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia pada 10-12 Agustus 2017. Workshop ini mempunyai tema pembelajaran yaitu memperluas perspektif terhadap sistem ketenagakerjaan Indonesia secara kolektif dan memunculkan variabel-variabel kunci dari sistem.




Perjalanan salah satu kelompok peserta Co-CLASS saat sensing sistem jaminan sosial dan kesehatan (BPJS) ke beberapa rumah Sakit di Jakarta

Rangkaian kegiatan Sensing Workshop hari pertama diawali dengan kegiatan sensing sistem jaminan sosial nasional yaitu BPJS. Para peserta dibagi menjadi lima kelompok dan masing-masing kelompok diminta untuk mengunjungi satu dari lima tempat pelayanan BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan seperti di Menara Jamsostek, BPJS Ketenagakerjaan Mampang, Dipo Tower, Rumah Sakit Tebet, dan Rumah Sakit Umum Mampang. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang sistem jaminan sosial nasional Indonesia, baik untuk ketenagakerjaan (BPJS-TK) dan untuk layanan kesehatan (BPJS Kesehatan), dan untuk merasakan sistem jaminan sosial Indonesia dari perspektif pengguna akhir. Setelah kegiatan Blusukan! atau sensing, para peserta kembali ke ruang kelas, dan bersama kelompoknya membuat laporan atas fakta dan temuan di lapangan. Setelah itu, masing-masing kelompok diminta maju ke depan untuk mempresentasikan laporannya. Pada sesi berikutnya, para peserta mendapatkan wawasan tentang sistem jaminan sosial nasional dan hubungan industri yang dibawakan oleh Dr. Surya Tjandra, seorang pengajar di Universitas Atmajaya. Sesi ini memberikan wawasan tentang background terbentuknya sistem jaminan sosial nasional.


Para peserta Co-CLASS saat memainkan peran dalam kegiatan “role play” pertunjukan drama singkat, untuk mengeksplorasi dan menggambarkan perubahan masa depan tahun 2045

Hari kedua Sensing Workshop dimulai dengan sesi Pak Silih Agung Wasesa, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Paramadina, mengenai Persuasive Communication, Lobby and Negotiation. Melalui sesi ini, para peserta diajak untuk menganalisis elemen kunci dalam proses komunikasi persuasi dan menerapkan teori persuasi untuk mengevaluasi pengaruh usaha masyarakat kontemporer seperti yang digunakan di bidang politik, media, bisnis, dan budaya kontemporer. Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Pak Harris Turino yang memberikan wawasan tentang International Business and Business model transformation in 21st century. Sesi ini bertujuan untuk memetakan dan memahami bagaimana berbagai tren dalam transformasi ekonomi mempengaruhi model bisnis global, nasional, dan lokal, dan untuk mengidentifikasi langkah selanjutnya yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi masa depan sistem ketenagakerjaan. Setelah mendapatkan wawasan tentang model bisnis dan pengaruhnya pada sistem ketenagakerjaan di masa depan, para peserta diajak untuk mengeksplorasi kemungkinan masa depan dalam meningkatkan kualitas kompetensi dan produktivitas tenaga kerja dalam sesi Pengembangan Kompetensi dan Produktivitas yang dibawakan oleh faculty dari UID. Para peserta secara berkelompok diminta untuk mempresentasikan aspirasi mereka tentang kompetensi dan produktivitas yang dibutuhkan di masa depan dalam kasus ini tahun 2045, yang disajikan dalam bentuk pertunjukan singkat. Selanjutnya, kegiatan hari kedua ditutup dengan sesi Ibu Mari Elka Pangestu dengan materi Transformasi Kebijakan Publik: Dari Eksklusif menjadi Inklusif.


Para peserta Co-CLASS berfoto bersama Menteri Ketenagakerjaan RI, Bapak Hanif Dhakiri pada hari ketiga Sensing Workshop

Hari ketiga sebagai hari terakhir rangkaian kegiatan Sensing Workshop dibuka dengan pembelajaran tentang Cognitive Biases: Barrier to effective decision making in communication (Bias Kognitif: Rintangan untuk pengambilan keputusan yang efektif dalam komunikasi yang disampaikan) oleh Bapak Abdul Malik Gismar, seorang dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Paramadina. Sesi ini memberikan informasi tentang beberapa manifestasi cognitive biases dalam hubungan antar manusia. Selanjutnya, para peserta diberikan gambaran secara besar tentang Sistem Ketenagakerjaan Indonesia: Saat Ini dan Masa Depan dalam sesi yang diberikan langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Bapak Hanif Dhakiri. Rangkaian kegiatan pembelajaran hari ketiga sekaligus kegiatan Sensing Workshop diakhiri dengan sesi learning dialogue tentang Indonesian Migrant Worker. Dalam sesi ini, ada empat narasumber yang dihadirkan yaitu Ibu Siti Badriyah, seorang mantan buruh migran yang pernah mengalami masa pahit menjadi TKI di Negara Malaysia hingga saat ini menjadi seorang advokat di sebuah organisasi perlindungan TKI yaitu Migrant Care; Bapak Saiful Mashud, ketua umum DPP ASPATAKI; Bapak Agus Triyanto, mantan atase tenaga kerja di Malaysia; dan Ibu Farha Cicik seorang penggagas komunitas TANOKER di Jember. Sesi ini bertujuan untuk memperluas perspektif kolektif kita mengenai masalah pekerja migran Indonesia melalui kacamata berbagai pemangku kepentingan di dalam sistem dan pentingnya sistem ketenagakerjaan di Indonesia.

Berakhir pada tanggal 12 Agustus, rangkaian workshop Co-CLASS akan dilanjutkan dengan Deep Dive Workshop pada tanggal 23-25 Agustus 2017 di Wisma Karya Jasa di Ciloto, Jawa Barat. Tema pembelajaran dari workshop ini menggarisbawahi tentang pemahaman tentang prinsip-prinsip kapasitas kepemimpinan reflektif dan menciptakan bersama landasan atau platform untuk prototip yang inovatif.


DEEP DIVE WORKSHOP

Para peserta Co-CLASS sedang fokus menyusun marshmellow dan spaghetti dalam kegiatan Action Learning Game dalam Deep Dive Workshop

Perjalanan pembelajaran kegiatan Co-CLASS (Collective, Creative Learning and Action for Sustainable Solutions) berlanjut dan telah memasuki workshop keempat. Setelah melalui proses kegiatan pembelajaran di Sensing Workshop pada 10-12 Agustus 2017 di Kementerian Ketenagakerjaan, para peserta dibawa ke Wisma Karya Jasa Ciloto, Jawa Barat selama tiga hari pada 23-25 Agustus 2017 untuk rangkaian kegiatan Deep Dive Workshop. Tema pembelajaran dari workshop ini menggarisbawahi tentang pemahaman tentang prinsip-prinsip kapasitas kepemimpinan reflektif dan menciptakan bersama landasan atau platform untuk prototip yang inovatif.


Para peserta Co-CLASS sedang memainkan peran dalam sesi Social Precensing Theatre ( SPT)

Rangkaian kegiatan pembelajaran hari pertama dibuka dengan sesi Bapak Abdul Malik Gismar tentang The Anatomy of Conflict and Collaborative Conflict Resolution (Anatomi Konflik dan Resolusi Konflik Kolaboratif). Sesi ini merupakan sesi kedua Bapak Abdul dalam rangkaian pembelajaran Co-CLASS setelah sebelumnya pada Sensing Workshop, beliau menyampaikan sesi tentang Cognitive Biases: Barrier to effective decision making in communication. Sesi berikutnya dilanjutkan oleh tim faculty dari UID, Shobi Lawalata, Cokorda Istri Dewi, dan Dr. Ben Chan dengan sesi Mapping and Embodying the Constellation of Employment System (Memetakan dan mewujudkan konstelasi sistem ketenagakerjaan). Sesi ini bertujuan untuk membangun kesadaran bersama untuk mewujudkan sistem ketenagakerjaan di Indonesia yang lebih baik melalui aktivitas Social Precensing Theatre (SPT) yaitu aktivitas yang memetakan konstelasi sistem dalam empat dimensi: posisi, orientasi, altitude dan sikap tubuh atau gesture. Selanjutnya, para peserta mendapatkan wawasan tentang empat gaya kepemimpinan dalam memimpin tim yang sehat dalam sesi Managing and Leading Healthy Team, wawasan tentang Entrepreneurisme dan Intrapreneurship sebagai filosofi inovasi, dan wawasan tentang bagaimana menghadirkan kreativitas ke dalam kapasitas kepemimpinan seseorang.


Peserta Co-CLASS sedang melakukan Personal Sculpting

Hari kedua Deep Dive Workshop diisi dengan sesi yang dibawakan oleh faculty dari UID seperti Case Clinic; Personal Sculpting yaitu kegiatan untuk mengembangkan pemahaman tentang sistem pribadi, profesional, dan masyarakat peserta dari perspektif holistik dengan mengaktifkan dan mengintegrasikan kecerdasan kepala, hati dan kecerdasan tangan melalu media tanah liat; Power of Intention yang merupakan sesi untuk mengembangkan kesadaran diri yang lebih kuat sebagai fondasi bagi inovasi dan kreativitas; Generative Creative Ideas for Innovation dimana para peserta dipandu melalui proses kreatif untuk merumuskan gagasan untuk mengatasi kesenjangan tertentu yang diidentifikasi secara kolektif. Dalam sesi ini, para peserta dibagi menjadi lima grup dengan lima gagasan atau focus theme berbeda yang terpilih melalui proses voting. Selanjutnya, gagasan ini akan menjadi cikal bakal prototipe yang akan mereka buat.


Bapak Donald Lantu sebagai salah satu peserta Co-CLASS menjelaskan mengenai gambaran masa depan yang ingin diwujudkan dari isu yang menjadi area of interest kelompoknya kepada para peserta Co-Class lainnya.

Hari ketiga sebagai hari terakhir rangkaian kegiatan Deep Dive Workshop dimulai dengan kegiatan System Sculpting. Sesi ini bertujuan untuk memvisualisasikan ide-ide prototipe yang telah dibuat di hari sebelumnya ke dalam bentuk 3D dengan media tanah liat. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempertajam dan memperjelas ide atau gagasan dengan membuat visualisasi 3D keadaan saat ini (current reality) dan masa depan (future reality) sehingga dapat dipahami dan diselami bersama. Selanjutnya, rangkaian kegiatan ditutup dengan penjelasan mengenai Theory U yang dibawakan oleh faculty UID.


Para peserta Co-CLASS berfoto bersama Di Wisma Karya Jasa, Ciloto, Jawa Barat

Belum berakhir sampai disini, rangkaian kegiatan Co-CLASS akan berlanjut ke workshop berikutnya yaitu Prototyping Workshop yang akan dilaksanakan selama dua hari pada 6-7 Oktober 2017. Kegiatan pembelajaran pada workshop ini merupakan tindak lanjut dari ide-ide prototipe yang telah diinisiasi dalam Deep Dive Workshop.


PROTOTYPING WORKSHOP

Peserta Co-CLASS sedang mengembangkan ide-ide prototyping dalam kegiatan Deep Dive Workshop

Ide-ide prototyping dalam Deep Dive Workshop kemudian dipertajam sehingga ditemukan fokus bidang yang dapat ditransformasi dalam Prototyping Workshop yang dilaksanakan pada tanggal 6-7 Oktober 2017.

Terdapat empat grup peserta dengan fokus ide prototyping meliputi:
1. Peningkatan perlindungan bagi tenaga kerja mandiri, khususnya pengemudi transportasi online;
2. Peningkatan perlindungan bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di sektor domestic;
3. Peningkatan kualitas layanan ketenagakerjaan melalui pembangunan sistem pelayanan K3 berbasis online; dan
4. Peningkatan kualitas kompetensi tenaga kerja di sektor retail melalui peningkatan kualitas kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Sebelumnya, masing-masing kelompok prototyping telah melalui proses coaching bersama fasilitator dari UID. Mereka juga telah melakukan proses engagement dan sensing kepada setiap stakeholders yang terkait dengan ide prototype mereka.


Bapak Putut Widjanarko saat menyampaikan materi di acara Prototyping Workshop

Rangkaian kegiatan pembelajaran hari pertama dibuka dengan sesi Bapak Putut Widjanarko dengan materinya mengenai Generative Conversation as A Leadership Tools. Dalam sesi ini, beliau berbagi ilmu tentang bagaimana mengartikulasikan pesan secara jelas sehingga melalui komunikasi kita dapat membangun hubungan interpersonal yang baik. Selain itu, peserta diajak untuk berlatih proses inquiry dan advocacy sebagai alat untuk membangun percakapan yang konstruktif. Kegiatan dilanjutkan dengan proses Defining your Project Challenge yang bertujuan untuk memetakan tantangan dalam prototype peserta. Para peserta juga diminta untuk mempresentasikan tantangan-tantangan tersebut.



Salah satu kelompok mempaparkan idenya saat acara Prototyping Workshop

Kegiatan pembelajaran hari kedua dimulai dengan sesi Systems Thinking as a Strategic Tools dimana para peserta diundang untuk menggunakan systems thinking sebagai alat untuk membangun peta holistik sistem ketenagakerjaan berdasarkan sudut pandang stakeholders ketiga sektor. Selanjutnya, masing-masing kelompok diundang untuk memetakan dan mewujudkan konstelasi sistem ketenagakerjaan di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertajam pemahaman peserta terhadap sistem yang mereka ingin transformasikan melalui kecerdasan 3H (Head, Heart, Hands).

Kegiatan pembelajaran hari kedua ditutup dengan sesi Ideation & Scenario Thinking. Dalam sesi ini, masing-masing kelompok diminta untuk mencari area of intervention dalam sistem yang mereka ingin transformasikan dan menghasilkan ide kreatif untuk area of intervention tersebut.


FINAL & GRADUATION WORKSHOP

Menteri Ketenagakerjaan RI Hanif Dhakiri berfoto bersama Dewan Pembina UID, Cherie Nursalim, I Gede Ardika dan Jatna Supriatna, Ketua Umum UID, Mari Pangestu, Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah, serta para peserta Co-Class.

Perjalanan pembelajaran Co-CLASS ditutup dengan manis dengan pelaksanaan Final and Graduation Workshop pada 3-4 November 2017. Pada Final Workshop yang diadakan di Gedung Tridharma Kementerian Ketenagakerjaan, masing-masing kelompok mempersiapkan presentasi hasil inovasi system ketenagakerjaan yang sudah mereka susun bersama melalui proses sensing dengan menggunakan tool-tool yang diperkenalkan oleh UID. Workshop terakhir ini ditutup dengan latihan presentasi dan pemberian feedback dari peserta dan fasilitator. Diakhir hari seluruh peserta menyiapkan booth masing-masing untuk dipersembahkan kepada undangan pada Acara Kelulusan CO-CLASS keesokan harinya.

Co-CLASS Graduation Ceremony , Sabtu 4 November 2017, dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Pembacaan Doa. Sambutan pembuka disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan RI, Hery Sudarmanto. Selanjutnya, Prof. Firmanzah, Rektor Universitas Paramadina memberikan sambutan selaku partner penyelanggara program CO-CLASS ini. Sambutan berikutnya disampaikan melalui video singkat oleh Dekan Sekolah Manajemen Publik Universitas Tsinghua, Prof. XUE Lan dan Prof. ZHU Xufeng yang menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program CO-CLASS. Pada video tersebut, Prof. XUE Lan juga menyatakan keinginan Universitas Tsinghua untuk tetap dapat berkolaborasi guna mendukung kerjasama Indonesia- China dibawah OBOR (One Belt One Road) inisiatif. Rangkaian sambutan pembuka ini ditutup oleh Sambutan dari Ibu Mari Elka Pangestu selaku Presiden United of Diversity (UID).

Undangan selanjutnya diarahkan untuk menyaksikan bersama-sama persembahan peserta Co-CLASS, hasil pembelajaran dan inovasi system ketenagakerjaan. Persembahan ini dilakukan dengan format souk dimana para undangan akan mengunjungi masing-masing booth peserta. Souk visit ini dilaksanakan selama 60 menit dengan sistem rotasi. Undangan dipandu untuk menyebar dan mengunjungi salah satu booth peserta sesuai arahan panitia, setelah 15 menit MC akan memberi tanda (bel) agar peserta berpindah kunjungan ke booth selanjutnya. Dengan sistem ini, seluruh stakeholders dan tamu undangan yang hadir dapat menyaksikan persembahan peserta Co-CLASS dan mendengarkan presentasi peserta dengan lebih jelas, akrab dan mendetail.

Setelah keseluruhan undangan mengunjungi masing-masing booth peserta, para stakeholders Co-CLASS diundang untuk menyuarakan feedbacknya terhadap hasil pembelajaran Co-CLASS. Feedback berupa masukan, kesan berikut saran dari stakeholders Co-CLASS disampaikan oleh Yennah Mulia selaku Direktur HR Gajah Tunggal (GT) Group, Cokorda Istri Dewi selaku perwakilan faculty dari UID, dan Sumiyati, Sekretaris Serikat Pekerja Nasional yang merupakan perwakilan peserta Co-CLASS. Penyampaian feedback ini dilanjutkan dengan pemutaran video perjalanan peserta Co-CLASS selama mengikuti program CO-CLASS dari bulan Juni sampai dengan November 2017.

Selanjutnya, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Hanif Dhakiri, menyampaikan sambutan sekaligus pandangan beliau terkait hasil pembelajaran peserta Co-CLASS. Penyerahan sertifikat dan upacara kelulusan pun dimulai dengan memanggil setiap peserta ke depan panggung dan menerima sertifikat kelulusan. Sambutan penutup disampaikan oleh Cherie Nursalim selaku pendiri UID Foundation. Sebelum memasuki agenda terakhir, makan siang bersama, seluruh peserta, fasilitator dan stakeholders Co-CLASS diundang untuk berfoto bersama.

Demikianlah akhir dari 5 bulan perjalanan pembelajaran CO-CLASS. Program pembelajaran boleh berakhir, tetapi semoga hubungan, kolaborasi dan sinergi yang terbina antara sektor pemerintah, bisnis, dan masyarakat dapat terus terjalin demi mewujudkan sistem ketenagakerjaan yang berdaulat, mandiri, berlandaskan gotong royong dan rasa percaya.


Gojes-Jempol, salah satu prototipe peserta Co-CLASS yang fokus pada jaminan sosial bagi tenaga kerja informal

Undangan selanjutnya diarahkan untuk menyaksikan bersama-sama persembahan peserta Co-CLASS, hasil pembelajaran dan inovasi sistem ketenagakerjaan. Persembahan ini dilakukan dengan format souk dimana para undangan akan mengunjungi masing-masing booth peserta. Souk visit ini dilaksanakan selama 60 menit dengan sistem rotasi. Undangan dipandu untuk menyebar dan mengunjungi salah satu booth peserta sesuai arahan panitia, sementara MC yang juga sebagai time-keeper memandu undangan untuk berpindah kunjungan ke booth selanjutnya setiap 15 menit.

Kelompok 1 yang menamakan diri mereka Mc Gyver, mengangkat isu perlindungan TKI. Kelompok ini berhasil mengembangkan prototipe TKI-One dalam bentuk website yang bisa membantu calon TKI meningkatkan pemahaman tentang segala seluk beluk bekerja di luar negeri.

Kelompok 2 dengan nama Vocational Enrichment Training Tranformers (VETTs) fokus kepada mengatasi adalah perbedaan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang sangat erat kaitannya dengan upaya untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kelompok ini berhasil mengembangkan prototipe E-POINT (e-Pemerintah dan Asosiasi Industri untuk Talenta Nusantara), sarana jejaring komunikasi digital bagi asosiasi industri dengan pihak pemerintah. Dengan menggunakan perusahaan ritel PT Mitra Adiperkasa Tbk, dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) sebagai tempat uji coba, ditemukan dua hal pokok yaitu (1) adanya perbedaan kompetensi kurikulum dan modul yang diberikan oleh Balai Latihan Kerja (Kemenaker) Bisman Semarang yang membuat industri sulit untuk menyerap keluarannya, serta perlu (2) proses komunikasi dengan Asosiasi Industri membantu pemerintah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam akan trend dan kebutuhan industri. Kerjasama ini direncanakan akan ditindaklanjuti dan diharapkan memberdayakan BLK sehingga keluarannya dapat diserap oleh industri.

Sedangkan Kelompok 3 yang menamakan diri Caterpillar dengan fokus isu yang diangkat adalah kualitas pelayanan publik ketenagakerjaan di Kementerian Ketenagakerjaan. Kelompok ini berhasil mengembangkan prototipe Aplikasi Sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (ASIKKK) untuk memudahkan proses Sertfikasi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Prototipe ini direncanakan akan uji coba dan pada akhirnya akan menjadi bagian dari perbaikan pelayanan ketenagakerjaan oleh Kemenaker.

Kelompok 4 yang menamakan diri Masa Kini Masa Gitu (MKMG) dengan fokus isu yang diangkat perlindungan atau jaminan sosial bagi tenaga kerja informal. Kelompok MKMG berhasil mengembangkan prototipe Gojes-Jempol yang terbukti mampu meningkatkan akses pekerja informal ke layanan perlindungan sosial. Prototipe kelompok ini mampu melahirkan kerjasama perusahaan transportasi online Gojek dengan BPJS yang kemudian mendorong driver online ikut serta dalam layanan BPJS Ketenagakerjaan. Dalam satu bulan uji coba, tidak kurang dari 8.100 pengemudi Gojek yang ikut dalam layanan BPJS Ketenaga Kerjaan melalui Gojes-Jempol.


Sumiyati, perwakilan peserta Co-CLASS yang memberikan sambutan dalam acara graduation

Setelah keseluruhan undangan mengunjungi masing-masing booth peserta, para undangan dipersilakan untuk duduk kembali. Sumiyati, Sekretaris Serikat Pekerja Nasional yang merupakan perwakilan peserta Co-CLASS menyampaikan kesan sekaligus feedbacknya selama mengikuti program Co-CLASS. Penyampaian feedback ini dilanjutkan dengan pemutaran video perjalanan peserta Co-CLASS selama mengikuti program CO-CLASS dari bulan Juni sampai dengan November 2017.


Menteri Ketenagakerjaan RI, Hanif Dhakiri memberikan sertifikat kelulusan kepada peserta Co-CLASS

Selanjutnya, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Hanif Dhakiri, menyampaikan sambutan sekaligus pandangan beliau terkait hasil pembelajaran peserta Co-CLASS. Penyerahan sertifikat dan upacara kelulusan pun dimulai dengan memanggil setiap peserta ke depan panggung dan menerima sertifikat kelulusan. Sertifikat diserahkan oleh Menteri Ketenagakerjaan, Bapak Hanif Dhakiri, didampingi Ibu Mari Elka Pangestu, Ibu Cherie Nursalim, Bapak Jatna Supriatna, dan Bapak Gede Ardika. Sambutan penutup disampaikan oleh Cherie Nursalim selaku pendiri UID Foundation. Sebelum memasuki agenda terakhir, makan siang bersama, seluruh peserta, fasilitator dan stakeholders Co-CLASS diundang untuk berfoto bersama.

Demikianlah akhir dari 5 bulan perjalanan pembelajaran CO-CLASS. Program pembelajaran boleh berakhir, tetapi semoga hubungan, kolaborasi dan sinergi yang terbina antara sektor pemerintah, bisnis, dan masyarakat dapat terus terjalin demi mewujudkan sistem ketenagakerjaan yang berdaulat, mandiri, berlandaskan gotong royong dan rasa percaya.


  |   About UID   |   10 Years of UID   |   UID Program   |   IDEAS   |   SDSN   |   UID-SDSN Award   |   Publication   |   Contact Us
©2017 United in Diversity