UpdatesNews

COVID-19 dan Tantangan Meningkatkan Kapasitas Bahagia

Oleh: Kang Yoto (Faculty Member United In Diversity)

Survival and happiness itulah dua ciri makhluk hidup, terutama binatang dan manusia. Agar survive binatang mendapatkan anugerah kemampuan secara fisik menyesuaikan diri dengan alam. Bunglon terkenal paling mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Warna belang harimau Sumatra terbentuk sebagai hasil adaptasi dengan hutan. Warna alam harimau merupakan salah satu cara agar tidak mudah terlihat oleh lawan atau mangsanya. Studi terbaru perilaku binatang mengkonfirmasi bahwa situasi yang aman akan mengurangi agresivitas binatang. National Geographic kerap menayangkan sisi hidup, sedih dan bahagianya binatang tertentu. Jadi tidak benar binatang itu tidak memiliki perasaan.

Perbedaan paling mencolok antara binatang dan manusia adalah pada kemampuan menarasikan sesuatu. Manusia lewat perasaan, akal dan bahasa mampu menarasikan pengalaman dan bahkan imajinasi masa depannya. Lewat narasi inilah manusia beradaptasi dengan segala situasi, bertahan dan bahagia. Tak heran bila setiap zaman dan tempat memiliki narasi berbeda tentang diri, sosial, alam dan juga sangkan paraning dumadi (dari mana kehidupan ini berasal dan kemana akan pergi).

Narasi ridho (nrimo-acceptance), syukur, sabar,   kegigihan, ikhlas, kasih sayang dan perilaku silaturahmi dalam bahasa dan pemaknaan yang sedikit berbeda ada dimana mana. Setiap ketidakseimbangan melahirkan kegelisahan, mengancam kebahagiaan. Baik ketidakseimbangan dalam diri, lingkungan alam dan lingkungan sosial.  Karena itu kebahagiaan seseorang ditentukan oleh  kemampuannya beradaptasi dan berkontribusi dengan berbagai situasi baik yang terduga atau tak terduga, agar terbentuk keseimbangan baru. Lewat narasi tersebut manusia bukan hanya terhindar stress namun juga terus melaju dalam berdamai dengan dirinya sendiri, sesama alam dan sesama manusia.

Hubungan harmonis dengan diri, alam dan lingkungan sosial jika manusia tidak terjebak pada keinginan dirinya (ego atau hawa nafsu). Untuk inilah manusia perlu mengakui adanya yang super diluar egonya, yang dikenal sebagai tuhan. Lewat penyelasan ego dengan dunia luar inilah manusia belajar keseimbangan, harmoni dan keselarasan. Dinamika kehidupan apapun harus berujung pada harmoni. Konsep keselarasan inilah yang di Bali disebut dengan Tri Hita Karana , dalam Islam disebut dengan hablum minallah, minannas dan minal alam. Sebuah konsep harmoni spiritual, sosial dan ekologis.

Mari kita melihat kehadiran COVID-19 sebagai tantangan peningkatan kapasitas berbahagia!

COVID-19 hadir di luar harapan seluruh umat manusia, ia memaksa siapapun umat manusia dan apapun perannya dalam kehidupan ini menerima realitas baru, mulai menyelaraskan perhatian dan sumberdaya untuk bertahan hidup. Physical distancing (PD), work from home dan pola  hidup bersih menjadi salah satu jurus hidup yang diterima luas. Proses penerimaan ini (ridho), WFH dan PD  memberi ruang setiap kita melihat lebih jernih posisi diri di tengah keluarga, sosial dan alam. Kemampuan ini hanya dapat diperoleh bila kita  memiliki kemampuan sabar, ikhlas dan menikmati perjuangan hidup. Lalu melihat dunia luar kita dengan semangat menyayangi dan mengelola keseimbangannya.

Lewat narasi makna dan ekosistem dadakan yang menyertai COVID-19, United in Diversity (UID) mengajak semua pihak memperingati Hari Kebahagiaan Internasional, tanggal 20 Maret. UID akan mengundang bapak/Ibu, rekan-rekan sekalian untuk berbagi narasi dan makna dalam forum Happiness Festival 2020: Webinar tanggal 28 Maret dan 22 April 2020. Kita berjarak secara fisik hanya untuk menegaskan bahwa kita satu dalam spirit dan tekad mengelola kehidupan lebih baik. Ikuti akun Instagram @happinessfestival.id dan @uidindonesia.

Jakarta 26 Maret 2020

Posted on 26 March 2020.